Roemani News: Wujud CSR Kesehatan, PT Phapros Gandeng RS Roemani Muhammadiyah Gelar Khitan Massal
- 18 Juni 2026
- 503
Kontributor: Annisa Salsabilla
“Kok kayak gejala yang aku alami ya? Jangan-jangan aku kena kanker payudara..”
Pernah nggak, setelah merasa ada benjolan kecil di dada, kamu langsung mencari informasi di Google atau media sosial? Seketika muncul berbagai kemungkinan penyakit dari yang ringan sampai penyakit serius.
Padahal, tidak semua benjolan yang ada di payudara berarti kanker, bisa saja karena perubahan hormonal atau kondisi lain yang tidak berbahaya. Tetapi karena menganggap informasi di internet benar, sehingga rasa cemas berlebihan muncul akibat dari self diagnosis tersebut.
Di era digital saat ini, informasi kesehatan sangat mudah untuk diakses oleh masyarakat luas melalui media sosial, mesin pencari, maupun video pendek di internet. Kemudahan akses tersebut membuat banyak orang cenderung mencari informasi mengenai gejala yang dirasakan, lalu menyimpulkan kondisi kesehatannya sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Perilaku hal tersebut biasa disebut dengan self diagnosis, namun self diagnosis berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Walaupun akses informasi kesehatan digital memang dapat membantu masyarakat untuk memahami kondisi kesehatan mereka. Namun, informasi tersebut tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis profesional.
Self diagnosis adalah tindakan seseorang mendiagnosis penyakitnya sendiri tanpa pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Biasanya seseorang akan:
Padahal, satu gejala dapat dimiliki oleh banyak penyakit yang berbeda. Misalnya sakit kepala bisa disebabkan oleh kurang tidur, migrain, sinusitis, tekanan darah tinggi, hingga gangguan saraf. Tanpa pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang, diagnosis yang benar sulit ditegakkan.
1. Misdiagnosis (Salah Diagnosis)Banyak penyakit memiliki gejala yang hampir sama.
Sebagai contoh:
Kesalahan memahami gejala dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang salah dalam pengobatan.
2. Salah Pengobatan (Mis-treatment)
Setelah merasa yakin dengan diagnosisnya sendiri, sebagian orang langsung membeli obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Hal ini dapat menyebabkan:
3. Terlambat Mendapatkan Pengobatan (Delayed Treatment)
Inilah salah satu dampak yang paling berbahaya karena menganggap penyakitnya ringan berdasarkan informasi di internet, seseorang menunda pemeriksaan ke dokter. Akibatnya, penyakit berkembang menjadi lebih berat sehingga peluang keberhasilan pengobatan menurun. Semakin cepat suatu penyakit diketahui, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal.
4. Terlalu Cemas Setelah Mencari Gejala di Internet (Efek Cyberchondria)
Cyberchondria adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan berlebihan akibat mencari informasi kesehatan di internet.
Gejala ringan seperti:
bisa langsung dianggap sebagai tanda penyakit serius setelah membaca berbagai artikel atau pengalaman orang lain.
Akibatnya muncul rasa takut, panik, sulit tidur, bahkan terus-menerus mencari informasi kesehatan yang justru memperburuk kecemasan.
5. Menutupi Gejala Asli Penyakit (Masking Symptoms)
Penggunaan obat tanpa anjuran dokter dapat mengurangi bahkan menghilangkan gejala sementara.
Ketika akhirnya pasien datang ke rumah sakit, gejala utama sudah berubah sehingga proses diagnosis menjadi lebih sulit.
Hal ini dapat memperlambat penanganan penyakit yang sebenarnya.
Tidak semua informasi kesehatan yang beredar di internet dibuat oleh tenaga medis.
Beberapa informasi berasal dari:
Selain itu, kondisi setiap orang berbeda.
Usia, riwayat penyakit, gaya hidup, penggunaan obat, hingga hasil pemeriksaan laboratorium dapat memengaruhi diagnosis seseorang. Karena itulah diagnosis tidak bisa hanya berdasarkan gejala yang dibaca di internet.
Langkah bijak yang harus dilakukan saat tubuh mengalami keluhan atau merasa sakit:
Perhatikan:
Informasi tersebut akan membantu dokter menentukan diagnosis.
Jika mengalami keluhan kesehatan, jangan ragu memanfaatkan layanan kesehatan seperti Puskesmas, Klinik, atau dokter keluarga melalui fasilitas JKN/BPJS maupun layanan umum.
Pemeriksaan sejak dini jauh lebih baik dibandingkan menunggu kondisi memburuk.
Bila memiliki keterbatasan waktu atau jarak, manfaatkan layanan telemedicine resmi yang menyediakan konsultasi dengan dokter berizin praktik (SIP).
Hindari mengambil kesimpulan hanya berdasarkan forum internet atau media sosial.
General Medical Check Up | RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Banyak penyakit tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala atau Medical Check Up (MCU) menjadi salah satu cara terbaik untuk mengetahui kondisi tubuh secara menyeluruh.
Dengan pemeriksaan yang tepat, dokter dapat memberikan diagnosis yang akurat, menentukan terapi yang sesuai, sekaligus memberikan edukasi mengenai langkah pencegahan penyakit.
Daripada menebak kondisi kesehatan sendiri berdasarkan informasi di internet, pastikan dengan pemeriksaan yang tepat.
Lakukan Medical Check Up (MCU) di RS Roemani Muhammadiyah Semarang untuk mengetahui kondisi kesehatan Sobat Roemani secara menyeluruh dan mendapatkan konsultasi langsung dari tenaga medis profesional.
📲 Yuk jadwalkan General Medical Check Up sekarang juga
dan pastikan kondisi tubuh Sobat Roemani benar-benar dalam keadaan sehat.
📍 Instalasi Poliklinik MCU – Gedung Ibrahim RS Roemani Muhammadiyah
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
🕒 Jam Operasional
Senin - Jumat 07.00 - 14.00
Sabtu 07.00 - 14.00
Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami
Tidak ada Komentar