SPELING Kembali Hadir di Temanggung, RS Roemani Muhammadiyah Semarang Dukung Pemerataan Layanan Dokter Spesialis
- 17 Juli 2026
- 93

Kalimat ini mungkin sering kita dengar, bahkan mungkin pernah kita ucapkan sendiri. Celana mulai terasa sempit, berat badan naik 8 sampai 15 kilogram dalam beberapa tahun, napas mulai ngos-ngosan saat naik tangga, tetapi semuanya dianggap biasa.
Padahal, obesitas tidak datang dalam semalam. Ia terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari.
Terlihat sepele, tetapi kebiasaan tersebut perlahan mengubah metabolisme tubuh dan meningkatkan penumpukan lemak. Lama-kelamaan, tubuh mulai memberikan sinyal yang sering diabaikan.
Padahal menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2022 terdapat sekitar 890 juta orang dewasa di dunia hidup dengan obesitas, dan prevalensinya telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1990.
Banyak orang mengira obesitas hanya soal bentuk tubuh.
Faktanya, WHO mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis yang terjadi akibat penumpukan lemak berlebih sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Secara umum, seseorang dikatakan mengalami obesitas apabila memiliki Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m². Namun, lingkar perut juga menjadi indikator penting karena lemak yang menumpuk di area perut jauh lebih berbahaya dibandingkan lemak di bagian tubuh lainnya.
Yang perlu disadari, risiko kesehatan sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan ketika seseorang baru mengalami kelebihan berat badan (overweight).
Baca juga : Obesitas Sulit Dikendalikan? Bariatrik Dapat Membantu Menurunkan Risiko Diabetes, Stroke, dan Penyakit Jantung
Obesitas jarang terjadi hanya karena makan banyak satu kali.
Penyebab utamanya justru berasal dari kebiasaan yang terus diulang.
Misalnya:
Jika pola seperti ini dilakukan hampir setiap hari selama bertahun-tahun, tubuh akan menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak. Ditambah kurang tidur, stres, dan minim aktivitas fisik, risiko obesitas menjadi semakin tinggi.
Obesitas bukan hanya membuat tubuh terasa lebih berat.
Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis yang dapat muncul bahkan sebelum usia 40 tahun.
1. Diabetes Melitus Tipe 2
Lemak berlebih membuat tubuh menjadi resisten terhadap insulin sehingga kadar gula darah terus meningkat. Awalnya mungkin hanya sering haus atau mudah lapar. Namun jika dibiarkan, diabetes dapat menyebabkan kerusakan ginjal, mata, hingga saraf.
2. Penyakit Jantung
Semakin besar berat badan, semakin keras jantung harus bekerja memompa darah. Lama-kelamaan tekanan darah meningkat, kolesterol memburuk, pembuluh darah menyempit, hingga risiko serangan jantung bertambah.
3. Stroke
Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Ketiga kondisi tersebut merupakan penyebab utama stroke. Yang mengejutkan, kini kasus stroke semakin sering ditemukan pada usia produktif.
4. Perlemakan Hati (Fatty Liver)
Banyak orang tidak menyadari bahwa lemak juga dapat menumpuk di hati. Jika terus berlangsung, kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan, sirosis, bahkan gagal hati.
5. Sleep Apnea
Mendengkur keras setiap malam bukan selalu tanda tidur nyenyak. Pada penderita obesitas, saluran napas dapat menyempit sehingga napas berhenti berulang kali saat tidur. Akibatnya tubuh tetap lelah meski sudah tidur cukup.
6. Nyeri Lutut dan Osteoarthritis
Semakin berat tubuh, semakin besar beban yang harus ditanggung sendi. Tidak heran banyak penderita obesitas mengeluhkan nyeri lutut bahkan saat masih berusia 30-an.
WHO menyebut obesitas meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, diabetes tipe 2, gangguan sendi, beberapa jenis kanker, serta berbagai penyakit kronis lainnya. Pada tahun 2021 saja, indeks massa tubuh yang terlalu tinggi diperkirakan berkontribusi terhadap 3,7 juta kematian akibat penyakit tidak menular di seluruh dunia.
Sayangnya, tidak.
Saat ini semakin banyak orang berusia 20 hingga 35 tahun yang mengalami:
Sebagian besar baru mengetahui kondisinya setelah melakukan pemeriksaan kesehatan atau ketika penyakit sudah menimbulkan keluhan.
Padahal sebelumnya mereka merasa sehat-sehat saja.
Baca juga: Obesitas pada Anak Meningkat: Penyebab & Cara Mengatasinya
Banyak penyakit akibat obesitas berkembang tanpa gejala pada tahap awal.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum muncul komplikasi.
Melalui Medical Check Up (MCU) RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Anda dapat memantau berbagai indikator kesehatan seperti:
Hasil pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan kesehatan lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Banyak orang berhasil menurunkan berat badan, tetapi tidak sedikit yang kembali naik dalam beberapa bulan. Hal ini terjadi karena yang diubah hanya pola makan sementara, bukan gaya hidupnya.
Di Klinik Gizi RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Sobat Roemani dapat berkonsultasi dengan dr. Aulia Parvasani, Sp.GK untuk mendapatkan pendampingan sesuai kondisi kesehatan, kebutuhan kalori, hingga target berat badan yang realistis.
Program disusun secara bertahap sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa harus menjalani diet ekstrem.
Baca juga : Obesitas Sulit Dikendalikan? Bariatrik Dapat Membantu Menurunkan Risiko Diabetes, Stroke, dan Penyakit Jantung
Bagi Sobat Roemani yang memiliki aktivitas padat, RS Roemani juga menyediakan Layanan Katering Gizi dengan menu yang disusun oleh tenaga gizi profesional. Menu disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan, sehingga membantu menjaga pola makan tetap seimbang tanpa harus repot menyiapkan makanan sendiri.
Obesitas bukan sekadar angka di timbangan atau ukuran pakaian.
Ia adalah sinyal bahwa tubuh sedang bekerja lebih keras dari yang seharusnya.Semakin cepat perubahan gaya hidup dimulai, semakin besar peluang mencegah diabetes, penyakit jantung, stroke, dan berbagai komplikasi lainnya. Mulailah dengan langkah sederhana: lebih banyak bergerak, memilih makanan yang lebih sehat, rutin memeriksakan kesehatan, dan berkonsultasi dengan tenaga medis bila berat badan mulai sulit dikendalikan.Karena menjaga kesehatan bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi juga tentang menikmati hidup dengan tubuh yang tetap kuat, aktif, dan produktif.
Obesitas bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah berbagai komplikasi serius di kemudian hari.
📍 Instalasi Poli Eksekutif Ibrahim Tower– RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📱 Marketing (rekanan & kerja sama): 0812 2691 6238
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
Buka
Senin - Sabtu 07.00 - 21.00
RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami.
Tidak ada Komentar