7 Juta Orang Indonesia Diperkirakan Mengalami Atrial Fibrilasi, Banyak yang Tidak Sadar

Oleh: Amaliarf 02 Oktober 2026 14:29:01
0 Komentar 110 Penonton
Sobat Roemani, pernah merasa jantung tiba-tiba berdebar, berdetak tidak beraturan, atau tubuh lebih cepat lelah dari biasanya?
Sering kali keluhan seperti ini dianggap sepele.
“Mungkin kurang tidur.”
“Kayaknya kecapekan.”
“Atau cuma karena banyak pikiran.”

Padahal, keluhan seperti jantung berdebar, mudah lelah, pusing, hingga sesak napas juga dapat muncul pada atrial fibrilasi (AF), salah satu jenis gangguan irama jantung yang membuatnya perlu diperhatikan, atrial fibrilasi tidak selalu menimbulkan gejala. Seseorang bisa saja merasa baik-baik saja, tetapi memiliki irama jantung yang tidak normal.

Hal inilah yang membuat atrial fibrilasi kembali menjadi perhatian setelah muncul data bahwa jumlah orang Indonesia yang diperkirakan mengalami kondisi ini mencapai lebih dari 7 juta orang.
 
Lantas, apa sebenarnya atrial fibrilasi dan mengapa kita perlu lebih waspada?

Kenapa Atrial Fibrilasi Kembali Menjadi Perhatian?

Berdasarkan keterangan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) atau Perhimpunan Aritmia Indonesia (PERITMI), prevalensi atrial fibrilasi di Indonesia diperkirakan sekitar 3,2 persen populasi. Setelah disesuaikan dengan faktor usia, angka tersebut diperkirakan setara dengan lebih dari 7 juta orang Indonesia yang mengalami atrial fibrilasi.
 
Data tersebut disampaikan Guru Besar Kardiologi dan Aritmia FKUI, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, dalam konferensi pers Pulse Day 2026 pada Februari 2026. Namun, angka tersebut bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian.
Menurut keterangan yang sama, sekitar 15 hingga hampir 50 persen kasus atrial fibrilasi dapat bersifat tanpa gejala atau silent. Pada sebagian pasien, stroke bahkan dapat menjadi tanda pertama bahwa seseorang mengalami atrial fibrilasi. Artinya, seseorang tidak selalu bisa mengetahui adanya gangguan irama jantung hanya berdasarkan apa yang dirasakan. Karena itu, deteksi dini menjadi penting, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Apa Itu Atrial Fibrilasi?

Atrial fibrilasi adalah gangguan irama jantung ketika serambi jantung atau atrium berdetak secara tidak teratur.

Dalam kondisi normal, jantung memiliki sistem listrik yang mengatur irama dan koordinasi setiap denyut. Pada atrial fibrilasi, aktivitas listrik di serambi jantung menjadi tidak teratur sehingga denyut jantung dapat menjadi cepat dan tidak beraturan.

Atrial fibrilasi termasuk salah satu jenis aritmia yang paling sering ditemukan. Kondisi ini dapat terjadi secara hilang timbul maupun menetap. Risikonya juga cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Masalahnya, tidak semua orang dengan atrial fibrilasi merasakan jantungnya berdebar.

Sebagian orang baru mengetahui kondisi tersebut ketika menjalani pemeriksaan kesehatan atau ketika diperiksa karena kondisi lain.

Gejala Atrial Fibrilasi yang Perlu Diperhatikan

Gejala atrial fibrilasi dapat berbeda pada setiap orang. Bahkan, sebagian orang tidak mengalami gejala sama sekali. Beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

  • Jantung berdebar atau terasa berdenyut cepat
  • Denyut jantung terasa tidak teratur
  • Mudah lelah
  • Tubuh terasa lemas
  • Pusing atau terasa melayang
  • Sesak napas
  • Kemampuan beraktivitas atau berolahraga menurun
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
  • Pingsan atau hampir pingsan pada kondisi tertentu

American Heart Association juga mencatat bahwa sebagian orang dengan atrial fibrilasi tidak mengalami gejala dan kondisi tersebut baru ditemukan melalui pemeriksaan.

Jadi, kalau belakangan muncul keluhan “kok sekarang gampang capek?”, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya hanya karena kurang istirahat atau aktivitas sedang padat.

Keluhan tersebut memang tidak otomatis berarti ada gangguan jantung. Namun, jika muncul berulang, semakin berat, atau disertai jantung berdebar, sesak, pusing, maupun denyut yang terasa tidak teratur, sebaiknya dilakukan pemeriksaan.

Kenapa Atrial Fibrilasi Bisa Berbahaya?

Atrial fibrilasi bukan sekadar masalah irama jantung.

Ketika serambi jantung berdetak tidak teratur, aliran darah di dalam jantung dapat menjadi tidak optimal. Kondisi ini dapat menyebabkan darah lebih mudah menggenang dan membentuk bekuan darah.

Jika bekuan tersebut terbawa aliran darah menuju otak dan menyumbat pembuluh darah, dapat terjadi stroke.

Menurut data yang disampaikan InaHRS/PERITMI, pasien dengan atrial fibrilasi memiliki risiko stroke sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa atrial fibrilasi.

American Heart Association juga menyebutkan bahwa orang dengan atrial fibrilasi memiliki risiko stroke hingga hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami AFib.

Inilah alasan mengapa atrial fibrilasi perlu dikenali dan ditangani dengan tepat.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Atrial Fibrilasi?

Atrial fibrilasi dapat terjadi pada berbagai usia. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya. Di antaranya:

  1. Usia semakin bertambah Risiko atrial fibrilasi meningkat seiring bertambahnya usia.
  2. Hipertensi Tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan meningkatkan risiko gangguan irama.
  3. Penyakit jantung Termasuk penyakit jantung koroner dan beberapa kelainan katup jantung.
  4. Diabetes Diabetes merupakan salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko atrial fibrilasi.
  5. Obesitas Berat badan berlebih dapat berkaitan dengan berbagai faktor yang meningkatkan risiko gangguan irama jantung.
  6. Sleep apnea Gangguan napas saat tidur juga dapat berkaitan dengan atrial fibrilasi.
  7. Gangguan tiroid Kondisi seperti hipertiroidisme dapat memengaruhi irama jantung.
  8. Merokok dan konsumsi alkohol Keduanya dapat menjadi faktor yang berhubungan dengan gangguan irama jantung.
  9. Riwayat keluarga Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan atrial fibrilasi juga dapat memiliki risiko lebih tinggi.

Karena itu, menjaga tekanan darah, berat badan, kadar gula dan kolesterol, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta tidak merokok menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung.

Bagaimana Atrial Fibrilasi Dideteksi?

Karena gejalanya tidak selalu muncul, pemeriksaan menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi irama jantung. Dokter dapat melakukan pemeriksaan berdasarkan keluhan, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan yang umum digunakan adalah elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung.

Jika gangguan irama muncul secara hilang timbul dan tidak tertangkap saat pemeriksaan EKG biasa, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan pemantauan irama jantung seperti Holter monitor dalam jangka waktu tertentu. Pemeriksaan lain dapat dilakukan sesuai kondisi pasien, seperti:

  • EKG
  • Holter monitor
  • Ekokardiografi atau USG jantung
  • Pemeriksaan laboratorium
  • Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi dokter

Perangkat seperti smartwatch juga dapat membantu memberikan informasi mengenai pola denyut jantung yang tidak teratur. Namun, hasil dari perangkat tersebut tidak menggantikan diagnosis dokter. Jika muncul notifikasi atau hasil yang mencurigakan, tetap diperlukan evaluasi medis.

Apakah Atrial Fibrilasi Bisa Diobati?

Bisa. Penanganan atrial fibrilasi disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Tujuannya dapat meliputi:

  • Mengontrol denyut jantung
  • Mengatur irama jantung
  • Mengurangi risiko terbentuknya bekuan darah dan stroke
  • Mengatasi faktor risiko atau penyakit yang mendasari
  • Mengurangi keluhan dan menjaga kualitas hidup

Dokter dapat mempertimbangkan obat-obatan tertentu, termasuk obat untuk mengontrol denyut atau irama jantung dan obat antikoagulan untuk menurunkan risiko pembekuan darah pada pasien tertentu. Pada kondisi tertentu, tindakan seperti kardioversi atau ablasi juga dapat dipertimbangkan.

Jangan mengonsumsi atau menghentikan obat jantung sendiri. Pilihan pengobatan perlu ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi dan risiko masing-masing pasien.

Jangan Tunggu Sampai Muncul Komplikasi

Sobat Roemani, atrial fibrilasi bisa datang dengan gejala yang terasa sederhana, bahkan bisa tidak menimbulkan keluhan sama sekali. Itulah mengapa kita perlu lebih peka terhadap perubahan tubuh.

Jika jantung mulai sering berdebar, denyut terasa tidak teratur, mudah lelah padahal aktivitas biasa, sering pusing, atau napas terasa lebih pendek, jangan langsung menganggapnya sebagai kecapekan biasa.

Terlebih jika Sobat memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, sleep apnea, atau riwayat keluarga dengan gangguan irama jantung.

Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan irama jantung atau kondisi lainnya.

Selain pemeriksaan ketika muncul keluhan, Medical Check Up (MCU) juga dapat menjadi bagian dari upaya mengenali kondisi kesehatan dan faktor risiko sejak lebih awal.

Kapan Harus Segera ke IGD?

Jangan menunda mencari pertolongan medis jika jantung berdebar atau gangguan irama disertai:

  • Nyeri atau tekanan di dada
  • Sesak napas berat
  • Pingsan
  • Kelemahan atau mati rasa mendadak pada salah satu sisi tubuh
  • Wajah tiba-tiba mencong
  • Bicara tiba-tiba pelo atau sulit berbicara
  • Gangguan penglihatan mendadak
  • Gangguan keseimbangan atau pusing berat

Gejala seperti kelemahan satu sisi tubuh, wajah mencong, dan gangguan bicara dapat menjadi tanda stroke dan membutuhkan pertolongan segera.

Saatnya Lebih Peduli pada Irama Jantung

Sobat Roemani tidak harus menunggu sampai muncul keluhan berat untuk mulai memperhatikan kesehatan jantung.

Konsultasikan kesehatan jantung bersama Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di RS Roemani Muhammadiyah Semarang.

Bagi Sobat yang ingin mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh, MCU di RS Roemani juga dapat menjadi pilihan pemeriksaan kesehatan berkala sesuai kebutuhan dan faktor risiko masing-masing.

Jantung sehat bukan hanya tentang berdetak, tetapi juga tentang irama yang perlu dijaga.

Lokasi dan Informasi Layanan

📍 Instalasi Poli Eksekutif Ibrahim Tower– RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📱 Marketing (rekanan & kerja sama): 0812 2691 6238

📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani

📅 Pendaftaran Online RS Roemani


Buka
Senin - Sabtu      07.00 - 14.00


RS Roemani Muhammadiyah
Rumah Sehat Keluarga Islami


FAQ Atrial Fibrilasi

Apakah atrial fibrilasi sama dengan jantung berdebar?
Tidak selalu. Jantung berdebar merupakan gejala, sedangkan atrial fibrilasi adalah salah satu gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan jantung berdebar. Jantung berdebar juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi lain.
Apakah atrial fibrilasi selalu memiliki gejala?
Tidak. Sebagian orang dengan atrial fibrilasi tidak merasakan gejala dan kondisi tersebut baru diketahui saat menjalani pemeriksaan.
Apakah atrial fibrilasi bisa menyebabkan stroke?
Ya. Atrial fibrilasi dapat meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah di jantung yang kemudian dapat menuju otak dan menyebabkan stroke.
Apakah EKG bisa mendeteksi atrial fibrilasi?
EKG merupakan salah satu pemeriksaan utama untuk melihat aktivitas listrik dan irama jantung. Jika gangguan irama muncul tidak terus-menerus, dokter dapat mempertimbangkan pemantauan lebih lama seperti Holter monitor.
Apakah orang yang tidak memiliki keluhan perlu memeriksakan jantung?
Kebutuhan pemeriksaan berbeda pada setiap orang. Namun, pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu mengenali faktor risiko atau kondisi tertentu lebih awal, terutama pada orang dengan faktor risiko penyakit jantung.

Referensi

  1. ANTARA News. (2026, February 13). Tujuh juta warga RI diperkirakan alami fibrilasi atrium. Data InaHRS/PERITMI mengenai prevalensi atrial fibrilasi sekitar 3,2 persen dan estimasi lebih dari 7 juta orang Indonesia.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Atrial Fibrilasi. Informasi mengenai gejala, faktor risiko, komplikasi, pemeriksaan, dan penanganan atrial fibrilasi.
  3. American Heart Association. What are the Symptoms of Atrial Fibrillation? Informasi mengenai gejala, kondisi tanpa gejala, dan risiko stroke pada AFib.
  4. American Heart Association. How is AFib Diagnosed? Informasi mengenai EKG, Holter monitor, dan pemeriksaan diagnosis AFib.
  5. American Heart Association. Understanding AFib: Symptoms, Treatment and Living Well. Informasi mengenai faktor risiko, komplikasi, diagnosis, dan pilihan penanganan AFib.
  6. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman Tatalaksana Fibrilasi Atrium.
Tags:
atrial fibrilasi fibrilasi atrium gejala atrial fibrilasi penyakit jantung gangguan irama jantung risiko stroke dokter jantung Semarang MCU Semarang

Tidak ada Komentar

Komentar Baru