Roemani News: RS Roemani Gandeng Puskesmas Srondol, Hadirkan Cek Kesehatan Gratis di Halal Bihalal PRM Padangsari
- 20 April 2026
- 77

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang justru merasa berat badannya tetap sama, bahkan ada yang meningkat selama bulan puasa. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan: "kenapa puasa tapi berat badan tidak turun?"
Ternyata ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari bisa menjadi penyebabnya, mulai dari pola makan saat berbuka, pilihan menu sahur, hingga aktivitas harian yang berkurang selama Ramadan. Memahami penyebabnya dapat membantu Anda mengatur pola makan dengan lebih tepat agar puasa tetap sehat dan berat badan lebih terkontrol.
Puasa Ramadan adalah momen spiritual yang penuh berkah, namun bagi banyak orang, ini juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga berat badan ideal.
Sering kali muncul kebingungan: "Puasa sudah full seharian, porsi makan berbuka juga sudah dikurangi, tapi kenapa berat badan stagnan atau bahkan naik? Dan kenapa badan justru terasa lemas?"
Jika ini yang Sobat Roemani alami, tenang saja. Masalahnya sering kali bukan pada jumlah makanan, melainkan pada pemahaman mekanisme tubuh dan timing aktivitas yang kurang tepat.
Faktanya, puasa adalah kondisi unik di mana tubuh Sahabat dipaksa untuk beralih menggunakan cadangan energi. Kuncinya adalah memanfaatkan momen ini dengan cerdas, bukan dengan menyiksa diri.
Pembakaran lemak tidak terjadi sepanjang hari saat berpuasa. Tubuh kita sangat pintar dalam mengelola energi. Ada waktu-waktu tertentu di mana tubuh secara alami lebih optimal dalam menggunakan lemak sebagai bahan bakar utama. Waktu inilah yang kita sebut sebagai "Waktu Emas" atau "Golden Hours" pembakaran lemak.
Sobat Roemani perlu mengenali dua momen emas ini:
Waktu Emas #1: Menjelang Berbuka (Aktivitas Ringan)
Momen ini adalah waktu paling efektif untuk pembakaran lemak. Mengapa? Karena cadangan gula (glikogen) dalam hati dan otot Sahabat sudah sangat rendah, dan kadar hormon insulin hormon yang menyimpan lemak juga berada di titik terendah. Dalam kondisi ini, tubuh tidak punya pilihan lain selain membakar cadangan lemak untuk energi.

Saran Aktivitas: Lakukan aktivitas fisik ringan atau sedang. Ingat, jangan olahraga berat. Cukup jalan santai di taman, melakukan yoga ringan, atau peregangan selama 30-45 menit. Tujuannya adalah membantu tubuh melepaskan lemak, bukan membuatnya stres dan kehabisan tenaga.
Waktu Emas #2: Setelah Berbuka (Aktivitas Sedang)
Waktu kedua adalah 2–4 jam setelah Sahabat makan berbuka. Saat ini, nutrisi sudah masuk dan energi Sahabat mulai stabil kembali. Tubuh Sahabat siap untuk aktivitas yang lebih dinamis.

Saran Aktivitas: Ini adalah waktu yang paling aman untuk meningkatkan intensitas. Sobat Roemani bisa melakukan jalan cepat (brisk walk), latihan beban ringan, atau workout intensitas sedang. Hindari kardio yang terlalu ekstrem agar tidak mengganggu kualitas tidur Sahabat.
Memaksimalkan pembakaran lemak bukan hanya tentang kapan Sobat Roemani bergerak, tetapi juga tentang bagaimana Sahabat mendukung tubuh sepanjang malam. Berikut empat faktor penting lainnya:
1. Nutrisi Berbuka: Jangan Langsung Makan Manis
Meskipun tergoda, jangan langsung mengonsumsi takjil yang sangat tinggi gula. Lonjakan gula darah yang tiba-tiba akan memicu hormon insulin melonjak, yang secara instan akan menghentikan proses pembakaran lemak dan justru memerintahkan tubuh untuk menyimpannya kembali.
.jpg)
Mulailah dengan air putih dan kurma. Utamakan protein dan sayuran untuk menu utama agar Sobat Roemani kenyang lebih lama dan menjaga massa otot, yang penting untuk metabolisme yang tinggi.
2. Hidrasi Adalah Kunci
Hidrasi yang cukup sangat penting untuk metabolisme yang optimal dan membantu ginjal membuang racun sisa pembakaran lemak. Kurang minum dapat membuat metabolisme Sahabat lambat dan tubuh terasa semakin lemas.

Penuhi kebutuhan air putih Sobat Roemani dengan metode 2-4-2: 2 gelas saat berbuka, 4 gelas antara berbuka dan sahur, dan 2 gelas saat sahur.
Baca Juga : Ginjal Sehat, Puasa Kuat | Cara Aman Menjaga Fungsi Ginjal Selama Ramadan
3. Tidur Berkualitas
Kualitas tidur sangat memengaruhi hormon yang mengatur lapar dan pembakaran lemak (ghrelin dan leptin). Kurang tidur meningkatkan hormon lapar, yang membuat Sobat Roemani ingin makan lebih banyak dan menghambat pembakaran lemak.

Usahakan tidur 7-8 jam per malam secara konsisten, bahkan di akhir pekan. Matikan perangkat elektronik satu jam sebelum tidur.
4. Kelola Stres
Stres meningkatkan hormon kortisol, yang merupakan musuh utama pembakaran lemak. Kortisol tinggi membuat tubuh merasa terancam dan akan menahan lemak sebagai cadangan darurat.
Lakukan teknik pernapasan dalam, meditasi ringan, atau luangkan waktu sejenak untuk bersantai.
Baca juga : Apa yang Terjadi pada Organ Tubuh Saat Puasa? Manfaat Kesehatan & Hikmah Puasa
Selamat berpuasa dan raih kesehatan maksimal, Sobat Roemani !
Jika Sobat Roemani ingin menurunkan berat badan secara sehat selama puasa, konsultasi dengan tenaga profesional bisa membantu menentukan pola makan yang tepat.
Di Klinik Gizi RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Sobat Roemani dapat berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis gizi klinis dan ahli gizi untuk mendapatkan panduan nutrisi yang sesuai kondisi tubuh.
Layanan yang tersedia antara lain:
Dengan pendampingan yang tepat, puasa bukan hanya ibadah, tetapi juga bisa menjadi momentum memperbaiki pola makan dan menjaga berat badan tetap ideal.

.jpg)
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
Poliklinik Buka
Senin - Jumat 07.00 - 21.00
Sabtu 07.00 - 19.00
Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami
Tidak ada Komentar